RSS
Write some words about you and your blog here

Pages

Krim Penginclong Wajah Resep Dokter

Ketika tengah melihat facebook ada satu iklan yang cukup menarik bagi saya, judulnya "KRIM PENGINCLONG WAJAH RESEP DOKTER". Mengapa saya katakan menarik? Baca uraian saya di bawah ini.
Pertama, karena ada embel-embel "resep dokter" di sana. Setahu saya, yang namanya resep dokter itu hanya bisa ditebus di Apotik. Apakah sekarang facebook sudah menjadi apotik?
Kedua, bila memang benar krim itu berdasarkan pada resep dokter, mengapa tidak disebutkan dokter bsiapa, spesialis apa dan juga lisensinya, agar calon pembeli bisa mengecek kebenaran keberadaan dokter tersebut.
Ketiga, setahu saya, manusia itu adalah makhluk yang sangat kompleks, tidak bisa dipukul rata semua orang butuh krim ini atau krim itu, bagaimana bisa resep untuk satu orang tertentu dibagikan pada orang lain, hanya berdasarkan keinginan menjadikan kulit wajah lebih putih?
Keempat, krim itu dijual bebas di facebook, berarti tanpa melalui konsultasi dengan dokter yang bersangkutan, kalaupun memang ada dokternya, atas dasar apa si dokter ini mendiagnosa jenis kulit calon pembeli? Ilmu batin? Penerawangan?
Saya membuat tulisan ini bukan ingin mematikan usaha orang lain atau rejeki si penjual, saya hanya ingin membagikan apa yang ada dipikiran saya, syukur-syukur bisa bermanfaat bagi penjual ataupun calon pembeli. Kan kasihan, bila nanti kulit wajah bukannya menjadi makin cantik malah menjadi makin buruk.

Rumpian Pagi Buta


Saat tengah ngantuk serius membungkus tape ketan yang telah di ragi, tiba-tiba Meme bertanya "Udah punya pacar kamu, Len?" dan seketika itu juga segala ngantuk dan kroni-kroninya hilang, menguap. Bingung harus jawab apa, yah sudahlah tidak ada salahnya saya bercerita tentang kisah cinta saya yang tentu saja sudah disensor bagian-bagian tertentunya.
Saya bilang, kemaren sempet ada cowok yang deketin saya, namun sayangnya dia bernama Komang juga, untuk sekedar informasi, di keluarga saya itu percaya bahwa apabila terjadi perkawinan antara Komang/Nyoman dengan Komang/Nyoman juga maka perkawinan itu tidak bahagia. Kapan-kapan saya akan tulis asal muasal mitos itu. Berhubung keluarga saya sedikit kolot ya itu menjadi salah satu pertimbangan juga.
Cerita pun berlanjut, dari dekat dengan si A. si B, si C yang kesemuanya orang Bali asli tapi entah kenapa tidak ada yang beres cocok dengan saya. Sampai akhirnya saya bercerita bahwa ada yang dekat dengan saya tapi bukan orang Bali. Seketika itu ekspresi wajah Meme berubah. Beliau bilang, "Usahakan mencari orang Bali, jelek-jeleknya punya sendiri, masih lebih bagus aja dari milik orang lain"
Kata-kata itu sudah terlampau sering saya dengar, walaupun saya sendiri tidak mengharuskan orang yang mendekati saya adalah orang Bali. Saya rasa, Meme saya pasti akan setuju pada orang yang akan saya kenalkan pada Beliau sebagai calon suami saya, darimana pun asalnya atau agama apapun dia. Masa iya, Meme lebih suka melihat anaknya melajang sampai mati daripada membiarkan saya berpindah agama atau dipersunting cowok dari negara antah berantah.

Selamat Pagi

03:00 dini hari
Setengah sadar saya mendengar seseorang memanggil nama saya, ya memang benar, ada yang memanggil saya, itu suara Meme (Ibu dalam bahasa Bali). Meme membangunkan saya karena ingin meminta bantuan saya, kebetulan ada pesanan tape ketan beserta jaje uli. Kalau mengikuti mau saya, mungki saya akan berpura-pura tidak mendengar, tapi naluri saya sebagai seorang anak tidak tega membiarkan beliau bekerja sendiri, karena kebetulan pembantu kami sedang pulang ke rumahnya. Setengah tertatih, saya mengikuti Meme.
Dengan hanya diterangi cahaya lampu yang remang saya membungkus jaje uli dalam kemasan plasti, sambil ditemani serangan si Nyamuk. Benar-benar menyebalkan situasinya. Untuk mengurangi kesebalan itu makanya saya nulis blog dulu, mumpung Meme lagi ngeragi tape ketan di tempat yang cukup jauh dari tempat saya sekarang.
Selamat pagi dunia, semoga hari ini bersahabat dengan saya.

Menunggu itu Membosankan, tauk!


Yah memang, ternyata menunggu adalah hal yang teramat sangat membosankan. Apalagi yang ditunggu itu adalah sesuatu yang tidak pasti hampir 2 tahun, eh lebih malah. Saya memang pernah berjanji akan menunggunya, itu ketika pikiran saya dirasuki cinta, dua tahun silam. Semua halangan juga tak tampak karna cinta, benar kata orang, cinta itu buta. 
Tapi kini, situasinya sudah tidak sama, banyak hal yang masih perlu saya lakukan daripada hanya sekedar menunggu. Saya bukan lagi ABG, yang masih punya banyak waktu menunggu, walaupun saya juga belum terlalu tua untuk tetap menunggu.
Kata teman saya, Ardani, "Wanita itu berhak mendapatkan kepastian dalam sebuah hubungan, ketika pihak laki-laki tidak mampu memberikan kepastian untuk apa terlalu berharap? Jangan menghabiskan waktu hanya untuk bermimpi, memimpikan hal yang nyaris mustahil. Kita berhak untuk bebas menentukan pilihan. Bila setelah bertemu ternyata akhirnya jadi serius, itu urusan belakangan"
Setelah diresapi, direnungi dan dipikirkan tujuh hari tujuh malam, kata Ardani itu benar, tapi memang dimana-mana berucap itu jauh lebih mudah dari melaksanakannya. Benar kan?

Say Hello Dulu


Hmmm...
Perkenalan lagi :) ini bakal jadi tulisan pertama saya di sini, tapi bukan blog pertama saya. Yah saya memang rajin membuat blog, tapi sayangnya sering sekali terlantar begitu saja.
Inspirasi menulis itu selalu datang disaat yang kurang tepat, seperti sedang berkendara ditengah kemacetan, sedang melamun, sedang bengong dan sialnya semua itu seperti menguap begitu saja ketika saya menghidupkan laptop. Bingung mau memulai dari mana. Mungkin semoga tidak blog ini akan bernasib serupa tapi tak sama dengan blog-blog saya yang lain, terlantar.
Bagi yang belum tau, ngorte kangin kauh itu artinya obrolan ngalur ngidul (kalau di Jawa), yah pokoknya nulis aja, ngobrolin apapun yang mungkin sempat hinggap dipikiran saya.